Tempat Untuk Belajar Segalanya.............

semua bisa saling tukar ilmu..

Sabtu, 12 Februari 2011

PKM-P


PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA


TINJAUAN HISTORIS LOKALISASI PAKEM DAN DAMPAKNYA
 TERHADAP MASYARAKAT SEKITAR
 (Suatu Studi Penelitian Di Lokalisasi Pakem Kelurahan Kertosari
Kecamatan Banyuwangi Kabupaten Banyuwangi
Tahun 1970-2010)


BIDANG KEGIATAN :
PKM PENELITIAN




Diusulkan oleh :
Ketua      :     Made Widodo                  NIM (51.07.1631) Angkatan 2007
Anggota  : 1. Mahfud                            NIM (51.06.1596) Angkatan 2006
  2. Wahyu Rusdiyansyah     NIM (51.06.1601) Angkatan 2006
  3. Refi Fatma Ari Yudha   NIM (21.06.1088) Angkatan 2006




UNIVERSITAS 17 AGUSTUS 1945
BANYUWANGI
2010

HALAMAN PENGESAHAN

USUL PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA

                                                 
1.       Judul Kegiatan                                           : Tinjauan Historis Lokalisasi Pakem dan Dampaknya Terhadap
  Masyarakat Sekitar (Suatu Studi Penelitian Di Lokalisasi Pakem
  Kecamatan Banyuwangi Tahun 1970-2010)

2.       Bidang Kegiatan                                        : PKM-P

3.       Bidang Ilmu                                                                : Sosial Ekonomi

4.       Ketua Pelaksana Kegiatan
a.     Nama Lengkap                                    : Made Widodo
b.     NIM                                                       : 51.07.1631
c.      Jurusan                                                  : FKIP Prodi Sejarah
d.     Universitas                                            : Universitas 17 Agustus 1945 Banyuwangi
e.      Alamat Rumah dan No. Tel./HP      : Banyuwangi No. Hp (081336435496)
f.      Alamat e-mail                                      : www. Mahfud_untag@yaho.com  

5.       Anggota Pelaksana Kegiatan                  : 4 (empat) orang
6.       Dosen Pendamping
a.     Nama Lengkap dan Gelar                 : Ir. Erika Saraswati, MP
b.     NIDN                                                     : 0722046505
c.      Alamat Rumah/No.Hp                      : Jl. Ikan Waderpari 16 A Banyuwangi 68411
d.     No Telp/HP                                           : (0333) 414540, +62811366707                                    

7.       Biaya Kegiatan Total                               : Rp.6.420.000,-

8.       Jangka Waktu Pelaksanaan                    : 5 Bulan

                                                            Banyuwangi,  Oktober 2010
                    Menyetujui,
           Ketua Jurusan Pendidikan IPS                                              Ketua Pelaksana Kegiatan


Drs. Waris Leluhur                                                                       Made Widodo
NIDN. 07050446192                                                                 NIM. 51.07.1631
Wakil Rektor I Bidang Kemahasiswaan                                  Dosen Pendamping



Drs. I Wayan Mertha                                                              Ir. Erika Saraswati. MP
  NIP. 131.626.855                                                                       NIDN. 0722046505


DAFTAR ISI

DAFTAR TABEL……………………………………………………………………………….. iv
DAFTAR LAMPIRAN……………………………………………………………………………v
Daftar Pustaka……………………………………………………………………………………18

 


DAFTAR TABEL



Tabel 1. Jadwal kegiatan……………………………………………………………………..      17
Tabel 2. Rancangan biaya penelitian…………………………………………………………      18







































DAFTAR LAMPIRAN


1.      Biodata ketua dan anggota kelompok ………………………………………………         20
2.      Biodata dosen pendamping …………………………………………………………         24



A.    JUDUL


Tinjauan Historis Lokalisasi Pakem dan Dampaknya
Terhadap Masyarakat Sekitar
(Suatu Studi Penelitian Di Lokalisasi Pakem Kecamatan Banyuwangi
Tahun 1970-2010)
(Made Widodo,dkk[1])



B.     LATAR BELAKANG MASALAH



Pada dasarnya semua manusia menginginkan kehidupan yang lebih baik, yaitu terpenuhinya kebutuhan hidup jasmani, kebutuhan rohani, maupun kebutuhan sosial. Manusia berpacu untuk memenuhi berbagai kebutuhan hidupnya demi memenuhi kebutuhan diri sendiri, maupun keluarganya. Berbagai upaya untuk memenuhi kebutuhan hidup dilakukan oleh manusia agar dapat memperoleh uang untuk memenuhi kebutuhan tersebut.  Kenyataannya, dalam usaha mendapatkan  pemenuhan kebutuhan hidup dihadapi adanya kesulitan-kesulitan, terutama yang dialami kaum wanita di Indonesia.
Menurut Miskawi&Matali (2009), sulitnya pemenuhan kebutuhan hidup menuntut wanita harus bekerja di luar rumah untuk mencari kegiatan yang dapat menambah penghasilan keluarga tidaklah mudah karena lapangan kerja yang sangat terbatas di samping tingkat pendidikan yang rendah. Dengan tingkat pendidikan yang rendah dan tidak adanya keterampilan yang mereka miliki menyebabkan mereka mencari jenis pekerjaan yang dengan cepat dapat menghasilkan uang. Akhirnya banyak wanita yang dengan terpaksa terjun ke dalam bisnis pelacuran.  Kita mengetahui bahwa salah satu bisnis seks adalah pelacuran, yang merupakan penyakit masyarakat yang belum dapat dituntaskan penyelesaiyannya. Aktivitas pelacuran dipandang masyarakat sebagai sisi hitam kehidupan social kita. Mulai dulu sampai sekarang kita masih terus berada pada dua haluan, dimana kita melarang pelacuran dan dimana juga kita memerima itu sebagai sesuatu yang tidak dapat di elakkan, dengan asumsi bahwa mengekang kebutuhan kebutuhan seksual atau libido kita akan dapat mengakibatkan bahaya, akan menimbulkan gangguan jiwa jika tidak diberi jalan keluar dengan adanya tempat pelacuran atau lokalisasi.
Kontradiksi pelacuran dari sisi agama dengan keberadaan manusia itu sebagai mahluk social yang mempunyai kebutuhan biologis terkadang membuat kita harus menempatkan secara hati-hati dan waspada. Sebab jika tidak, maka manusia akan dianggap mengesampingkan nilai-nilai agama pada saat melakukan pelacuran. Pelacuran adalah tidak lebih dari mengeksploitasi wanita sebagai pemuas nafsu seks seotang laki-laki untuk itu kemudian si wanita diberi imbalan uang sesuai dengan tarif atau kesepakatan pada saat transaksi bersama antara si pelacur dan yang melacur. Bisnis seks ini telah menjalar kemana-mana, daerah pinggiran makin ramai ketika ditengah kota di usik. Semua kebijakan pemerintah bersifat semu, dan terkesan malu-malu. Tidak ada ketegasan hukum mengenai bisnis syahwat ini secara jelas dan gamblang. Pelacuran sering disebut sebagai ” profesi paling tua” karena telah ada sejak jaman Yunani Kuno, dan di Nusantara sendiri telah mengakar kuat sejak jamam kerajaan. Tapi itu hanya sebuah asumsi untuk membenarkan eksploitasi terhadap wanita.
Pelacuran merupakan salah satu bentuk penyakit masyarakat, yang harus dihentikan penyebarannya tanpa mengabaikan usaha pencegahan dan perbaikannya. Pelacuran berasal dari bahasa latin Prostituere atau Prostauree, yang berarti membiarkan diri berbuat zina, melakukan persundalan, percabulan. Pelacuran adalah gejala kemasyarakatan, dimana wanita menjual diri dengan melakukan perbuatan-perbuatan seksual sebagai mata pencaharian.
Lokalisasi atau tempat pelacuran telah menjamur di Indonesia, di Surabaya di kenal lokalisasi Dolly yang sangat terkenal bahkan sampai ke luar negeri. Lokalisasi yang merupakan surga yang sangat menjanjikan bagi para wanita penjajah cinta juga telah merambah daerah-daerah kecil di Indonesia. 
Menurut Miskawi dan Matali ( 2009:54) menyatakan bahwa Keberadaan lokalisasi telah memunculkan pekerjaan baru bagi masyarakat setempat yaitu adanya peningkatan ekonomi seperti pedagang, tukang becak, tukang ojek, pembantu atau tukang cuci pakaian, tukang pijat, dan penjual jamu. Sehingga sebagian masyarakat terutama yang mendapatkan manfaat ekonomi dari keberadaan WTS tersebut memiliki persepsi positif terhadap WTS di Lokalisasi. Dan dengan adanya lokalisasi bisa memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga, karena rata – rata keluarga yang bekerja dilokalisasi berasal dari golongan ekonomi rendah.
Meskipun disisi lain keberadaan lokalisasi dipandang sebagian masyarakat memiliki bentuk positif, namun prosentasenya kecil. Oleh sebab itu, bagi masyarakat keberadaan lokalisasi tetap dikatakan sebagai tempat yang bermakna negatif sehingga harus ditutup. Ada satu hal yang belum pernah disadari oleh semua masyarakat yang kontra, bahwa sejarah telah membuktikan sebenarnya prostitusi tidak dapat diberantas dan sulit untuk ditanggulangi atau ditolelir dan akan berdampak negatif lagi jika prostitusi ditekan maka akan mengakibatkan pertumbuhan prostitusi baru. Prostitusi akan semakin marak dan berkeliaran seperti yang berada di gang-gang kecil, pemukiman, hotel, pusat keramaian kota yang pada akhirnya berimbas pada ketertiban dan kesehatan (Miskawi dan Matali, 2009; 36).
Di Banyuwangi sendiri tempat-tempat lokalisasi atau pelacuran banyak terdapat dimana-mana. Antara lain lokalisasi Padang Bulan di Singojuruh, juga terdapat lokalisasi Pakem Kertosari (Banyuwangi), LCM di Ketapang, Warung Panjang (Ketapang), Klopoan (Genteng), Buk Marpuk (Wongsorejo), lokalisasi Padang Pasir dan lokalisasi Blibis Kecamatan Rogojampi, serta lokalisasi Wonosobo di Kecamatan Srono, Terminal Jajag, sepanjang Jalan Raya Genteng, Bambu Ria Cungking, sebelah Alun-alun Gesibu Blambangan dekat Hotel WB milik Pemkab, Pesanggaran, dan masih banyak lagi tempat lainnya.
Salah satu lokalisasi yang sangat dikenal di Banyuwangi dan terdapat di tengah kota adalah lokalisasi Pakem yang terdapat di Kelurahan Kertosari Kecamatan Banyuwangi. Lokalisasi Pakem awal mulanya berdiri sebagai penampungan dari PSK yang berkeliaran di sekitar wilayah kota Banyuwangi, atas inisiatif  Pemerintah Daerah Banyuwangi para PSK yang berkeliaran di Terminal, di alun-alun kota, di Jalan-jalan Banyuwangi di kumpulkan dan di lokalilisir  ke satu tempat di daerah pesisir pinggiran kota tepatnya di Kelurahan Kertosari. Hal ini dimaksudkan agar kota menjadi bersih sehingga para PSK yang berkeliaran di jalan tersebut dipindahkan ke Pakem. Lokalisasi Pakem yang berdiri sejak tahun 1970 ini merupakan lokalisasi yang sangat diminati oleh para lelaki hidung belang. Hal ini dikarenakan oleh tarif yang dipasang oleh PSK di Lokalisasi Pakem bisa dikatakan cukup murah dibandingkan dengan Lokalisasi lain yang ada di Banyuwangi. Dengan harga Rp. 25.000,- kita sudah bisa menikmati nikmatnya surga dunia dari para PSK, itupun tergantung pintarnya pelanggan melakukan negoisasi harga. Biasanya kalau sudah menjadi langganan harganya bisa lebih murah lagi. Selain itu tentunya akses sarana dan prasarana menuju lokalisasi juga sangat memadai dari pada Lokalisasi lainnya yang jauh dari pusat kota.
 Adanya pro dan kontra pendirian lokalisasi Pakem dan dinamika perkembangannya membuat lokalisasi ini selalu menjadi perdebatan dalam masyarakat. Lokalisasi yang didirikan untuk melokalisir PSK yang berkeliaran sembarangan malah ditanggapi negatif oleh masyarakat yang memandang melalui perspektif negatif saja. Namun sebaliknya tidak sedikit yang mendukung lokalisasi ini untuk tetap eksis karena dianggap sebagai solusi untuk memberikan yang terbaik bagi PSK dan masyarakat yang nantinya bisa memperkecil problematika masalah sosial. Lokalisasi juga dianggap memberikan hal yang positif terhadap masyarakat sekitar karena memberikan sebuah lapangan pekerjaan yang baru selain menjadi PSK, yakni adanya bidang usaha lain misalnya dengan menjadi pedagang di daerah lokalisasi dan menjadi tukang ojek di area tersebut.
Berdasarkan hal-hal tersebut di atas penulis tertarik untuk mengkaji bagaimana awal mula keberadaan lokalisasi pakem itu sendiri serta dinamika sosial ekonomi pekerja seks komersial (PSK) yang ada di Lokalisasi pakem serta dampaknya terhadap masyarakat sekitar lokalisasi. Oleh karena itu penulis mencoba mengangkat ini menjadi sebuah penelitian dengan judul ” Tinjauan Historis Lokalisasi Pakem dan Dampaknya Terhadap Masyarakat Sekitar (Suatu Studi Penelitian Di Lokalisasi Pakem Kecamatan Banyuwangi Tahun 1970-2010)”.


C.    RUMUSAN MASALAH

 


Berdasarkan rumusan permasalahan/paparan latar belakang diatas, maka permasalahan yang menjadi objek kajian dapat penulis rumuskan sebagai berikut:
1)      Bagaimana sejarah keberadaan Lokalisasi Pakem di kelurahan Kertosari kecamatan Banyuwangi Kabupaten Banyuwangi?
2)      Bagaimana dinamika kehidupan sosial ekonomi Pekerja Seks Komersial di Lokalisasi Pakem tahun 1970-2010?
3)      Bagaimana dampak lokalisasi Pakem terhadap masyarakat sekitar?

4)       

D.    TUJUAN PENELITIAN



Berdasarkan rumusan permasalahan diatas, maka tujuan penelitian yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah:
1.      Mengkaji lebih dalam sejarah keberadaan lokalisasi pakem di Kelurahan Kertosari Kecamatan Banyuwangi Kabupaten Banyuwangi.
2.      Mengkaji lebih dalam dinamika kehidupan sosial ekonomi Pekerja Seks Komersial di Lokalisasi Pakem mulai tahun 1970-2010.
3.      Mengkaji lebih dalam dampak yang ditimbulkan dari adanya lokalisasi baik secara positif ataupun negative dari keberadaan lokalisasi pakem tersebut.


E.     LUARAN YANG DIHARAPKAN

 


Dengan diadakannya penelitian ini diharapkan yaitu :
1)      Dapat menumbuhkan karya kreatif dan inovatif dalam penelitian yang akhirnya dapat dijadikan sebagai karya tulis dalam bentuk karya ilmiah atau artikel.
2)      Dapat memberikan kontribusi yang berarti pada masyarakat, utamanya kepada para PSK dan masyarakat sekitar.
3)      Memberi masukan kepada pemerintah agar memperhatikan kehidupan lokalisasi agar bisa memberikan kontribusi positif dan sebagai bahan masukan bagi pemerintah Daerah Kabupaten Banyuwangi dalam mengambil kebijakan yang berkaitan dengan upaya penertiban lokalisasi.

4)       

F.     KEGUNAAN PENELITIAN

 

 

Berdasarkan rumusan permasalahan dan tujuan penelitian sebagaimana penulis kemukakan diatas, maka diharapkan hasil penelitian ini akan dapat memberikan suatu manfaat/kontribusi sebagai berikut:
1)      Menambah khasanah pengetahuan sejarah tentang prostitusi dan gender di Indonesia umumnya dan Lokalisasi pakem khususnya.
2)      Sebagai sumbangsih pengetahuan mahasiswa dalam melaksanakan Tri Dharma Perguruan Tinggi.
3)      Menjadi bahan masukan bagi pemerintah Daerah Kabupaten Banyuwangi dalam mengambil kebijakan yang berkaitan dengan upaya penertiban lokalisasi.
4)      Dapat lebih memperkaya perbendaharaan kepustakaan tentang Gender dan perkembangan sosial ekonomi Pekerja Seks Komersial (PSK)  Kabupaten Banyuwangi, khususnya di Lokalisasi Pakem.
5)      Dapat memberikan informasi bagi setiap orang yang ingin mengetahui mengenai keberadaan dan kehidupan sosial ekonomi Pekerja Seks Komersial di Pakem.

6)       

G.    TINJAUAN PUSTAKA



Untuk dapat memberikan gambaran mengenai peristiwa sejarah yang terjadi, sebuah karya sejarah yang berupa tulisan sangat memerlukan tinjauan pustaka.
Tinjauan pustaka berperan sebagai pendukung dan pembanding serta bahan analisa untuk memperdalam pengetahuan tentang permasalahan-permasalahan yang dibahas. Kerangka teori yang dijadikan landasan berfikir bermanfaat untuk mempertajam konsep serta untuk menghindari terjadinya pengulangan dalam suatu penulisan (Masri Singarimbun dan Sofian Effendi, 1985:45).
Tinjauan pustaka juga sangat berguna dalam membantu penulisan yang bersifat ilmiah. Buku pertama yang digunakan sebagai kajian dalam penelitian ini berjudul Pathologi Sosial Jilid 1 karangan (DR Kartini Kartono 2003: 177-178). Secara keseluruhan buku ini membahas mengenai masalah-masalah sosial yang ditimbulkan oleh berbagai ketimpangan. Salah satunya adalah prostitusi (pelacuran). Pelacuran yang dianggap sebagai penyakit masyarakat merupakan konsekuensi atau akibat yang tidak diharapkan dari kondisi sosio-kultural, dan berfungsi sebagai gejala tersendiri. Masalah pelacuran secara khusus membahas tentang para Wanita Tuna Susila atau Pekerja Seks Komersil dan tempat lokalisasinya yang secara langsung maupun tidak langsung memberikan dampak yang positif bagi sebagian kecil dari suatu kelompok masyarakat.
Dengan didirikannya lokalisasi yang resmi para pelacur menjadi lebih terorganisir dan teratur serta tidak menjadi liar lagi dengan beroperasi ditempat-tempat yang mudah terjaring operasi yang dilakukan oleh pihak kepolisian secara rutin. Satu hal yang membedakan dari buku lain adalah karena tidak adanya pendapat mengapa pelacuran tetap ada khususnya di Indonesia. Penyebabnya adalah karena tidak adanya Undang-undang yang melarang pelacuran, meskipun sekarang Undang-undang tentang pelacuran sudah ada, tetapi pelacur tetap melakukan kegiatannya tanpa memperdulikan Undang-undang yang telah dibuat. Kelebihan dari buku ini adalah buku ini menganalisa lebih tajam tentang gejala-gejala Pathologi Soaial dilihat dari segi social dan kulturalnya.
Hal ini dimaksudkan agar kita bisa mendapatkan gambaran yang jelas mengenai bermacam-macam penyakit masyarakat seperti pelacuran. Kelebihan yang lainnya yaitu digunakannya beberapa disiplin ilmu dari barbagai pendekatan antara lain Psikologi, Sosiologi, Pekerjaan social dan Politik. Kelemahan dari buku ini adalah pembahasannya kurang menyoroti kondisi yang nyata dari beberapa gejala Patologi Sosial di sebuah daerah di Indonesia.
Buku kedua yang digunakan sebagai kajian dalam penelitian ini berjudul Pathologi Sosial karangan (D Soedjono, SH 1982:123-124). Dalam buku ini membahas Gelandangan, Narkotika, Alkoholisme, Pelacuran, Penyakit Jiwa dan Kejahatan. Gejala-gejala Pathologi Sosial tersebut merupakan problema di Amerika Serikat, beberapa Negara Eropa, dan Negara kita yaitu Indonesia. Penanggulangan masalah Pathologi Sosial di Indonesia umumnya bersifat kebijaksanaan Pemerintah Daerah dalam pelaksanaannya dilakukan oleh “Vice Control” POLRI, Jawatan Sosial, DPRD, dan oleh Yayasan-yayasan Swasta.
Dewasa ini gejala sosial yang mendapat sorotan masyarakat Indonesia adalah ‘gelandangan’ dan ‘pelacuran’, gejala-gejala ini merupakan masalah yang membingungkan Pemerintah Daerah untuk menanggulanginya, sehingga dalam buku ini lebih banyak penambahan penjelasan pada dua gejala masyarakat tersebut, termasuk lampiran-lampiran berupa rancangan Undang-undang dan Peraturan-peraturan Pemerintah Daerah tentang masalah dan usaha penanggulangan terhadap “Gelandangan” dan “Pelacuran” di Indonesia. Kelebihan dari buku ini adalah buku ini lebih banyak menyoroti tentang kejadian-kejadian yang ada dalam kehidupan sehari-hari seperti gelandangan dan pelacuran baik di tingkat nasional maupun tingkat Internasional, serta dilengkapi dengan lampiran-lampiran termasuk rancangan Undang-undang dan Peraturan-peraturan yang dibuat oleh Pemerintah Daerah yang bekerja sama dengan berbagai pihak terkait di dalamnya. Kelemahannya adalah cakupannya lebih menjurus ke Luar Negeri dari pada di Dalam Negeri sendiri.
Pelacuran merupakan “profesi” yang sangat tua usianya, setua umur kehidupan manusia itu sendiri, yaitu berupa tingkah laku lepas kendali dan cabul, karena adanya pelampiasan nafsu seks dengan lawan jenisnya tanpa mengenal batas-batas kesopanan. Pelacuran selalu ada pada semua negara berbudaya, sejak zaman purba sampai sekarang (Kartini Kartono, 2003: 177-178). Di Indonesia istilah pelacur sering disebut dengan Wanita Tuna Susila (WTS), yang mata pencahariannya menyediakan diri bagi siapa saja yang menghendaki (tanpa pilihan), dan atas kesediaannya dia mendapat upah uang atau barang-barang yang diterimanya sebagai bayaran.
Adapun bentuk dan polanya bermacam-macam, ada yang langsung tersedia di tempat-tempat (dirumah-rumah), yang dinamakan bordil. Biasanya wanita tuna susila yang berada di bordil-bordil ini dipelihara oleh seseorang yang dinamakan germo atau mucikari. Ada pula wanita tuna susila yang hanya melayani panggilan ke tempat tertentu seperti di hotel, pesanggrahan atau rumah-rumah tertentu. Wanita tuna susila ini dinamakan “call girl” (wanita panggilan). Wanita tuna susila tersebut diperoleh dari tempat penampungan milik germo dan sulit ditelusuri keberadaannya. Yang paling menyolok yaitu pelacuran jalanan, Wanita Tuna Susila tersebut biasanya berkeliaran di pojok jalan seolah-olah menjajakan diri secara terang-terangan. Biasanya mereka di bawa oleh yang menghendakinya (D. Soedjono, 1982:123-124).
Lokalisasi pada umumnya terdiri atas rumah-rumah kecil yang berlampu merah, dikelola oleh mucikari atau germo. Di luar negeri, germo mendapat sebutan “madam”, sedang di Indonesia mereka dipanggil dengan sebutan “mama” atau ‘mami”. Tempat tersebut menyediakan segala perlengkapan seperti tempat tidur, kursi tamu, pakaian dan alat berhias. Juga tersedia bermaca-macam gadis dengan tipe karakter dan suku bangsa yang berbeda.
 Di tempat lokalisasi tersebut menerapkan disiplin dengan ketat: misalnya: tidak boleh mencuri uang langganan, dilarang merebut langganan orang lain, tidak boleh mengadakan janji diluar, dilarang memonopoli seorang langganan dan lain-lain. Wanita tuna susila itu harus membayar pajak rumah dan pajak obat-obatan, sekaligus juga uang keamanan agar mereka terlindung dan terjamin identitasnya. Suasana dalam kompleks lokalisasi wanita pelacur itu sangat kompetitif, khususnya dalam bentuk persaingan memperebutkan langganan. Biasanya nama-nama wanita tuna susila umumnya diganti, untuk menjaga keaslian identitasnya, agar mereka tidak dikenal oleh saudaranya. Saingan berat bagi para wanita tuna susila ialah wanita-wanita dan gadis-gadis yang secara individual beroperasi bebas (pelacur individual). Seringkali pelacur individual itu dilaporkan kepada polisi oleh pelacur professional (Kartini Kartono, 2003: 216-217).
Menurut Miskawi dan Matali ( 2009:54) menyatakan bahwa Keberadaan lokalisasi telah memunculkan pekerjaan baru bagi masyarakat setempat yaitu adanya peningkatan ekonomi seperti pedagang, tukang becak, tukang ojek, pembantu atau tukang cuci pakaian, tukang pijat, dan penjual jamu. Sehingga sebagian masyarakat terutama yang mendapatkan manfaat ekonomi dari keberadaan WTS tersebut memiliki persepsi positif terhadap WTS di Lokalisasi. Dan dengan adanya lokalisasi bisa memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga, karena rata – rata keluarga yang bekerja dilokalisasi berasal dari golongan ekonomi rendah.
Meskipun disisi lain keberadaan lokalisasi dipandang sebagian masyarakat memiliki bentuk positif, namun prosentasenya kecil. Oleh sebab itu, bagi masyarakat keberadaan lokalisasi tetap dikatakan sebagai tempat yang bermakna negatif sehingga harus ditutup. Ada satu hal yang belum pernah disadari oleh semua masyarakat yang kontra, bahwa sejarah telah membuktikan sebenarnya prostitusi tidak dapat diberantas dan sulit untuk ditanggulangi atau ditolelir dan akan berdampak negatif lagi jika prostitusi ditekan maka akan mengakibatkan pertumbuhan prostitusi baru. Prostitusi akan semakin marak dan berkeliaran seperti yang berada di gang-gang kecil, pemukiman, hotel, pusat keramaian kota yang pada akhirnya berimbas pada ketertiban dan kesehatan (Miskawi dan Matali, 2009; 36).
Kondisi obyektif hasil penelitian tersebut belum pernah dilihat secara bijak oleh masyarakat dan pemerintah. Padahal dengan keberadaan lokalisai sebagai tempat penampungan dapat memberikan nilai positif dari segi ekonomi, pendidikan, kesehatan dan politik. Akan tetapi, nilai positif keberadaan lokalisasi tidak pernah diperhitungkan atau diteliti oleh lembaga pemerintah daerah. Selain itu dampak yang ditimbulkan dari adanya lokalisasi tidak hanya dipandang dari sudut pandang negatif saja akan tetapi banyak sisi positif lain dengan keberadaan lokalisasi tersebut (Miskawi, 2010).




H.     METODE PELAKSANAAN


Pendekatan dalam penelitian sosial sejarah merupakan masalah yang penting, karena penggambaran mengenai suatu tulisan sangat tergantung dari pendekatannya. Pendekatan juga menentukan dari segi mana penulis memandang dimensi yang diperhatikan dan unsur mana yang diungkapkan (Sartono Kartadirjo, 1992 :4)
Penelitian ini menggunakan metode penelitian sejarah atau historis yang memperhatikan hubungan sebab akibat selain itu juga mengkaji dari sisi social dari adanya lokalisasi. Adapun prosedur penelitian sejarah menurut Gottschalk (1983: 32) meliputi empat langkah antara lain: heuristik, kritik, interpretasi dan historiografi. Pengetahuan tentang sejarah tidak dapat mengubah masa lampau. Studi sejarah hanyalah sebagai mediator dari masa kini untuk melihat ke masa lampau. Pengetahuan sejarah kritis tidak sekadar menjawab pertanyaan apa, siapa, dimana, dan kapan peristiwa sejarah terjadi. Metode sejarah disini digunakan untuk menyusun cerita sejarah (Nugroho Notosusanto, 1978: 10) yang tidak hanya menganalisa secara kritis permasalahan namun juga mensintesa data-data yang ada. Dengan metode seperti itu maka penyajian dari kisah sejarah dapat dipercaya. Metode yang dipergunakan adalah metode sejarah (historical Methode). Metode sejarah adalah proses mengkaji dan menganalisa secara kritis rekaman dan peninggalan masa lampau (Gottschalk, 1975: 32). Dalam metode sejarah ada beberapa langkah yang harus ditempuh. Adapun langkah-langkah dalam metode sejarah, yaitu :
Pengumpulan data lapangan yang dilakukan oleh peneliti, terdiri atas dua jenis data yaitu data primer dan data sekunder. Data primer adalah data yang diperoleh dari sumber pertamanya. Sedangkan data sekunder yaitu data yang telah tersususun dalam bentuk dokumen-dokumen. Data sekunder terebut diperoleh dari dokumen penelitian tentang pertambangan dan monografi daerah penelitian di kantor-kantor pemerintahan setempat maupun informasi dari pamong desa.
Dalam penelitian ini penulis menggunakan Sumber tertulis berupa dokumen, skripsi, laporan penelitian dan buku-buku yang berkaitan dengan dinamika sosial ekonomi Pekerja Seks Komersial (PSK). Sedangkan sumber lisan dapat diperoleh dengan wawancara dengan para PSK, Ketua RT di Lokalisasi Pakem, dan orang-orang yang dianggap relevan dijadikan sebagai sumber.
Langkah kedua dari  metode sejarah adalah kritik. Dalam hal ini sumber sejarah yang telah penulis dapatkan dari perpustakaan  Universitas Tujuh Belas Agustus 1945 Banyuwangi  dalam bentuk laporan penelitian dosen, yakni hasil karya tulis Miskawi dan Mattali yang berjudul “ Peran WTS (Wanita Tuna Susila) Dalam Memenuhi Kebutuhan Ekonomi Keluarga”. Kritik yang dilakukan oleh peneliti meliputi dua hal yaitu kritik ekstern dan kritik intern. Penerapan kritik ekstern adalah upaya yang dilakukan untuk mendapatkan dokumen dan data yang otentik. Artinya data yang diperoleh bukan tiruan, turunan, atau palsu. Hal tersebut dilakukan dengan cara meneliti bahan yang dipakai, jenis tulisan, gaya bahasa dan lain sebagainya. Peneliti perlu menyeleksi mana yang relevan dengan pokok permasalahannya, kemudian menyediakan lewat pengolahan sebagai fakta-fakta (Kartodirjo, 1993: 16).
Selanjutnya kritik intern atau kritik dari dalam, yaitu untuk menganalisis isi (substansi) sumber data yang sudah dikritik eksternalnya, agar nantinya diperoleh data yang kredibel. Penerapan kritik intern yang diperoleh dari sumber lisan, dalam penelitian ini adalah upaya untuk menemukan kebenaran dan keabsahan data dari sumber yang diperoleh pada waktu wawancara. Wawancara dilaksanakan kepada Perangkat Desa, Ketua RT Lokalisasi Pakem, Dinas Sosial, serta para PSK dan pelanggan PSK (Lelaki Hidung Belang). Peneliti dalam hal ini menilai atau menyeleksi sumber-sumber sejarah yang telah diperoleh sebagai usaha mendapatkan sumber yang valid, dalam arti kredibel serta benar-benar mengandung informasi yang relevan dan kronologis dengan cerita sejarah yang akan ditulis. Tujuan terakhir yang ingin dicapai dalam melakukan kritik adalah menetapkan otentitas dan kredibel dari sumber yang diuji untuk menghasilkan fakta sejarah.
Langkah ketiga dari metode sejarah adalah interpretasi. Dalam langkah ini setelah memperoleh fakta-fakta yang dibutuhkan penulis berusaha melakukan analisis dan penafsiran dari wawancara dan dokumen yang dirangkaikan secara kronologis, rasional dan faktual. Interpretasi dilakukan karena berbagai fakta yang telah ditemukan dalam kegiatan kritik tersebut masih terpisah dan berdiri sendiri. Oleh karena itu berbagai fakta yang lepas satu sama lain harus diinterpretasikan dengan cara menghubungkan sehingga menjadi satu kesatuan yang harmonis dan masuk akal (Notosusanto, 1978: 41). Pada tahap interpretasi ini penulis melakukan penafsiran dan pemahaman dengan berdasar pada masalah yang dibahas yaitu sejarah lokalisasi pakem dan Dinamika Sosial Ekonomi PSK (Pekerja Seks Komersial) Di Lokalisasi Pakem Mulai Tahun 1970-2010. Dengan menghubungkan fakta-fakta tersebut  akan diperoleh suatu gambaran umum yang kronologis dan sistematis tentang inti cerita.
Untuk mempermudah proses analisis dalam interpretasi maka selain menggunakan pendekatan sejarah, diperlukan pula suatu pendekatan dari ilmu sosial lainnya. Adapun pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan sosiologi ekonomi dengan mengadaptasi konsep-konsep dari Smelser untuk memahami dan menganalisa tentang suatu aspek kehidupan sosial, tidak dapat mengabaikan peran aspek ekonomi dalam masyarakat. Sebaliknya aspek-aspek non ekonomi dari kehidupan sosial juga mempengaruhi ekonomi, sehingga aspek ekonomi dan aspek non ekonomi dari kehidupan saling berkaitan (Smelser, 1987:65). Analisis yang ditawarkan oleh pendekatan sosiologi ekonomi diharapkan mampu mengidentifikasi akibat-akibat penting dari aktivitas perekonomian terhadap perubahan sistem sosial yang terjadi dilingkungan PSK di Lokalisasi Pakem.
Langkah terakhir dalam penelitian ini adalah proses historiografi. Pada tahap ini menjelaskan tentang tinjauan historis (sejarah) keberadaan PSK Dan Dinamika Sosial Ekonomi Para PSK (Pekerja Seks Komersial) Di Lokalisasi Pakem Mulai Tahun 1970-2010.

 




I.       JADWAL KEGIATAN


Tabel. 1. Jadwal kegiatan
Manfaat
Luaran Langsung
Kegiatan
Langkah Kerja
Waktu (bulan ke-)
Material
2010
1
2
3
4
5

Tinjauan Historis Lokalisasi Pakem dan Dampaknya Terhadap Masyarakat Sekitar
Suatu Studi Penelitian di Lokalisasi Pakem Kelurahan Kertosari, Kecamatan Banyuwangi tahun 1970-2010
1.     Kelengkapan administrasi (perijinan)
-    Pengurusan ijin kegiatan mahasiswa pada tingkat fakultas
-    Pengurusan surat ijin masuk kawasan lokalisasi
1-1.      Koordinasi dan konsultasi
1-2.      Penyiapan berkas-berkas yang diperlukan
1-3.      Pengurusan ijin





1.      Copy proposal
2.      Materai
3.      Transportasi
2.     Data primer kondisi lokalisasi Pakem dari RT/RW, Kelurahan
-    Koleksi data

2-1.    Koordinasi
2-2.    Survey dan pengamatan lapang





1.       Recorder
2.       ATK
3.       Kamera
4.       Konsumsi
5.       Transportasi
3.     Data teranalisis
-    Analisis data
-    Historiografi
3.1.    Rekapitulasi data/kritisasi data
3.2.    Analisis
3.3.    Historiografi





1.       ATK
2.       Komputer
3.       Transportasi
4.     Draft laporan dan bahan seminar dan seminar
-    Penyusunan draft laporan dan bahan seminar
-    Seminar
4.1.    Diskusi dan pembahasan
4.2.    Penyusunan draft laporan dan bahan seminar
4.3.    Perbanyakan
4.4.    Seminar





1.     ATK
2.     Komputer
3.     Proyektor
4.     Konsumsi
5.     Transportasi
5.     Laporan akhir
-    Penyusunan laporan akhir
5-1.    Diskusi dan pembahasan
5-2.    Perumusan outline dan isi
5-3.    Penyusunan laporan akhir
5-4.    Penjilidan dan perbanyakan
5-5.    Pengiriman





1.     ATK
2.     Komputer
3.     Transportasi

J.      RANCANGAN BIAYA



Tabel 2. Rancangan biaya penelitian
No.
Jenis Pembiayaan
Volume
Harga Satuan (Rp.)
Harga Total (Rp.)
Ket.
1
Bahan habis pakai






a. ATK
1
Paket
                      1.000.000
                  1.000.000


b. CD
20
Keeping
                           3.000
                     60.000


c. CD case
20
Buah
                           3.000
                     60.000



d. Konsumsi selama penelitian

8

kali
                      50.000

400.000          



c. Konsumsi seminar

1

Kali
                      10.000
             500.000


Sub Total



  2.020.000

2
Peralatan penunjang






a. sewa mobil plus BBM
1
Unit
                         500.000
                     500.000


b. Beli Kamera digital
c. beli tinta

1
1
Unit
paket
                      1.500.000
200.000
               1.500.000
200.000


Sub Total



  1.900.000

3
Perjalanan
12
OJ
                         50.000
               600.000


Sub Total



  600.000

4
Lain lain






a. Penjilidan dan perbanyakan Laporan
15
buah
                         30.000
                  450.000


b. Perbanyakan materi seminar
c. Seminar akhir Universitas
30
1
Eksemplar
Kali
                          
5.000
20.000
                  150.000
1.000.000


Sub Total



     1.200.000


Total Biaya



  6.420.000




DAFTAR PUSTAKA

Abdullah, Taufik. 1990. Sejarah Lokal Di Indonesia. Yogyakarta: Gajah Mada University Press.
Adaby Darban, Ahmad. 1995. Catatan Singkat Tentang Perkembangan Historiografi. Yogyakarta: Bata Offset.
Astiyanto, Heniy. 2003. Sosiologi Kriminalitas. Yogyakarta: Legal Center 97.
B. Simandjuntak. 1981. Pengantar Kriminologi dan Patologi Sosial. Bandung: Tarsito.
Miskawi,Matali, 2009. Peran WTS (Wanita Tuna Susila) Dalam Memenuhi Kebutuhan Ekonomi Keluarga. Banyuwangi : FKIP Untag Banyuwangi.
Brouwer, M.A.W. 1974. Hormatilah Pelacur, dalam Antara Senyum dan Menangis. Jakarta: PT. Gramedia. Hlm 115.
Gottschalk, Louis. 1986. Terjemahan Nugroho Notosusanto. Mengerti Sejarah. Jakarta: UI-PRESS.
Haga, J. 1901. De Schaduwzijden Van het reglement op de prostitutie in Nederlandsch-Indie, dalam Geneeskundig Tijdschriff voor Nederlandsch-Indie, 41: 531-538.
Hull, Terence H, dkk. 1997. Pelacuran di Indonesia: Sejarah dan Perkembangannya. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan.
Ingleson, John. 1986. Prostitution in Colonial Java, dalam D.P Chandler and M.C. Ricklefs, eds, Nineteenth and Twentieth Century Indonesia: Essays in Honour of Prof.J.D. Ledge. Melbourne: Monash University.
Kartini Kartono. 2003. Patologi Sosial Jilid I. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.

Kartodirdjo, Sartono. 1988. Pemikiran dan Perkembangan Historiografi Indonesia: Suatu Alternatif. Jakarta: PT. Gramedia.
Koentjaraningrat. 1981. Metode-metode Penelitian Masyarakat. Jakarta: PT. Gramedia.
Koentjoro. 1989. Melacur Sebuah Karya dan Pengorbanan Wanita Pada Keluarga ataukah Penyakit Sosial?, Paper dibuat untuk Seminar Nasional kedua Wanita Indonesia, fakta-fakta dan Karakteristik, Fakultas Psikologi, Universitas Gajah Mada, Yogyakarta.
Lumoindang, Reindra dan Gilbertz. 1996. Pelacuran dibalik Seragam Sekolah (Tinjauan etis Teologis Terhadap Praktik Hubungan Seks Pranikah). Yogyakarta: Yayasan Andi Nugraha.
Mantra, Ida Bagus. 2003. Demografi Umum. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Muhammad, Djawahir. 1995. Semarang Sepanjang Jalan Kenangan. Semarang: Kerja Sama PEMDA DATI II Semarang- Dewan Kesenian Jawa Tengah- Aktor Studio Semarang.
Purnomo, T dan Siregar, A. 1985. Dolly: Membedah Dunia Pelacuran Surabaya, Kasus Kompleks Pelacuran Dolly, cetakan keempat. Jakarta: Grafiti Press.
Soedjono, D. 1970. Pathologi Sosial. Bandung: Alumni.
Soedjono, D. 1977. Pelacuran, Ditinjau dari segi hukum dan kenyataan dalam masyarakat. Bandung: Penerbit Karya Nusantara.
Verkuyl, J. 1957. Penyakit Kelamin dan Kesehatan Rakyat Mengenai Rohani dan Susilanya, dalam buku Symposium Universitas

Lampiran


1.      Biodata Ketua dan Anggota Kelompok

(a)   Ketua Kelompok
1.      Keterangan
Nama/ NIM                      : Made Widodo/ 51.07.0865
TTL                                  : Banyuwangi, 11 Februari 1972
Jenis kelamin                    : Laki-laki
Agama                              : Islam
Kebangsaan                      : Indonesia
Alamat/ No. Telp./HP      : Jl. Patoman Rogojampi
 HP. 081336435496
Waktu untuk PKM          : 32 jam/minggu

2.      Riwayat Pendidikan
1)      SD          : SDN 1 Patoman (1986)
2)      SLTP      : SMPN 1 Rogojampi (1989)
3)      SLTA     : SMAN 1 Rogojampi (1992)
4)      PT           : Universitas 17 Agustus 1945; Fakultas KIP Prodi Sejarah (s.d. saat ini)















Banyuwangi,      Oktober 2010
Ketua Kelompok,




Made Widodo
NIM. 51.07.1631


(b)   Anggota Kelompok 1
1.      Keterangan
Nama/ NIM                      : Mahfud/ 51.06.1596
TTL                                  : Banyuwangi, 01 Januari 1987
Jenis kelamin                    : Laki-laki
Agama                              : Islam
Kebangsaan                      : Indonesia
Alamat/ No. Telp./HP      : Wongsorejo-Banyuwangi/No. Hp (081336119889)

Waktu untuk PKM          : 32 jam/minggu

2.      Riwayat Pendidikan
a)      Formal :
1)      SD          : SDN I Alasbuluh (2000)
2)      SLTP      : SMPN 1 Wongsorejo(2003)
3)      SLTA     : SMAN 1 Wongsorejo (2006)  
4)      PT           : Universitas 17 Agustus 1945; Fakultas KIP (s.d. saat ini)
















Banyuwangi,      Oktober 2010
Anggota,




Mahfud
NIM. 51.06.1596
(c)    Anggota Kelompok 3
1.      Keterangan
Nama/ NIM                      : Wahyu Rusdiyansah/ 51.06.1601
TTL                                  : Banyuwangi,
Jenis kelamin                    : Laki-laki
Agama                              : Islam
Kebangsaan                      : Indonesia
Alamat/ No. Telp./HP      : Jl. Letnan Sulaiman Gg. Ipeda II No. 27 Banyuwangi
 +6281227993222
Waktu untuk PKM          : 32 jam/minggu

2.      Riwayat Pendidikan
a)      Formal :
1)        SD          : SDN Kebalenan I (2000)
2)        SLTP      : SMPN 2 Banyuwangi (2003)
3)        SLTA     : SMA 17 Agustus 1945 Banyuwangi (2006)
4)        PT           : Universitas 17 Agustus 1945; Fakultas KIP (s.d. saat ini)
















Banyuwangi,      Oktober 2010
Anggota,




Wahyu Rusdiyansah
NIM. 51.06.1601






(d)   Anggota Kelompok 4
1.      Keterangan
Nama/ NIM                      : Refi fatma Ari Yudha/21.06.1088
TTL                                  : Banyuwangi, 10 Agustus 1987
Jenis kelamin                    : Perempuan
Agama                              : Islam
Kebangsaan                      : Indonesia
Alamat/ No. Telp./HP      : Jl. Raya jember, Sarimulyo-Cluring-BWI/ No. Hp
  (081336117838)
Waktu untuk PKM          : 32 jam/minggu

2.      Riwayat Pendidikan
b)     Formal :
1.      SD          : SDN Cluring I (2000)
2.      SLTP      : SMPN I Cluring (2003)
3.      SLTA     : SMA I Purwoharjo (2006)
4.      PT           : Universitas 17 Agustus 1945; Fakultas ISIP (s.d. saat ini)


















Banyuwangi,      Oktober  2010
Anggota,




Refi Fatma Ari Yudha
NIM. 21.06.1088
2.      Biodata Dosen Pendamping
Nama Lengkap                             : Ir. Erika Saraswati, MP.
Tempat, Tanggal Lahir                 : Banyuwangi, 22 April 1965
Alamat                                         : Jl. Ikan Waderpari 16 A Banyuwangi 68411
Telepon                                        : 0333.414540; 0811366707
N I Y                                            : 1795.40423
NIDN                                           : 0722046505
Jenis Kelamin                               : Perempuan
Agama                                          : Islam
Status                                           : Kawin
Pekerjaan                                      : Dosen Universitas 17 Agustus 1945 Banyuwangi
Jurusan/Program Studi                 : Perikanan/Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan
Pangkat/Jabatan/Golongan          : Penata Tk I/Lektor/III-D
Bidang Keahlian                          : Budidaya Perikanan, Perencanaan

Latar Belakang Pendidikan
1)      SD pada SD Negeri  Brawijaya, lulus tahun 1977
2)      SLTP pada SMP Negeri I Banyuwangi, lulus tahun 1981
3)      SLTA pada SMPP Negeri Banyuwangi, lulus tahun 1984
4)      Sarjana Perikanan (S1) pada Fakultas Pertanian Jurusan Perikanan Universitas Dr. Soetomo Surabaya, lulus tahun 1990
5)      Magister Pertanian (S2) pada Program Studi Pengelolaan Tanah dan Air Universitas Brawijaya Malang, lulus tahun 2001

Riwayat Pekerjaan
1)      Staf Laboratorium Tambak Udang Istana Windu Banyuwangi, 1990 – 1991
2)      Asisten Manajer Bidang Budidaya PT. Mahayasa Group Banyuwangi, 1991 – 1992
3)      Dosen Fakultas Pertanian Universitas 17 Agustus 1945 Banyuwangi, 1995 – sekarang
4)      Ketua Jurusan Perikanan pada Fakultas Pertanian Universitas 17 Agustus 1945 Banyuwangi, 2000 – 2001
5)      Pembantu Dekan I pada Fakultas Pertanian Universitas 17 Agustus 1945 Banyuwangi, 2001 – 2003
6)      Sekretaris Lembaga Penelitian pada Universitas 17 Agustus 1945 Banyuwangi, 2001 – 2002
7)      Ketua Lembaga Pengabdian Masyarakat pada Universitas 17 Agustus 1945 Banyuwangi, 2003 – 2007
8)      Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat pada Universitas 17 Agustus 1945 Banyuwangi, 2007 – sekarang

Karya Tulis dan Penelitian
1)      Ketua Penelitian : Evaluasi Perairan Pantai Prigi dan Perencanaan Konservasi Terumbu Karang dan Rumput Laut, 2000
2)      Ketua Penelitian : Efisiensi Protein pada Bikultur Ikan Lele Dumbo dan Ikan Nila Hibrid dengan Variasi Kepadatan yang Berbeda, 2001
3)      Anggota Tim Penyusun : Rencana Strategis Daerah Kabupaten Banyuwangi tahun 2002 – 2005
4)      Anggota Tim Penyusun : Rencana Pembangunan Tahunan Daerah Kabupaten Banyuwangi, 2002
5)      Koordinator Tim : Pendataan Perijinan Alat Penangkapan Ikan Di Kabupaten Banyuwangi, 2002
6)      Instruktur Pelatihan : Pembuatan Pakan dan Pengendalian Hama dan Penyakit Ikan (Proyek PMP2SP), 2002
7)      Instruktur Pelatihan :Diversifikasi Usaha Pengolahan Hasil Perikanan (Proyek PMP2SP) , 2002
8)      Instruktur Pelatihan : Monitoring Controlling Surveilance Berbasis Partisipatif (Proyek PMP2SP) , 2002
9)      Anggota Tim Penyusun : Arah Kebijakan Umum APBD Kabupaten Banyuwangi , 2003
10)  Instruktur Pelatihan : Professional Staff (Proyek PMP2SP), 2003
11)  Instruktur Pelatihan : Pengelolaan Sumberdaya Perikanan Pantai, CFRM (Proyek PMP2SP), 2003
12)  Anggota Tim Penyusun : Arah Kebijakan Umum APBD Kabupaten Banyuwangi, 2004
13)  Penulis Buku Bacaan SMP/SMU : Pengelolaan Sumberdaya Perikanan Pantai
14)  Anggota Tim Penyusun : Arah Kebijakan Umum APBD Kabupaten Banyuwangi tahun 2005.
15)  Anggota Tim Penyusun : Rencana Kerja Pemerintah Daerah Kabupaten Banyuwangi, 2006
16)  Anggota Tim Penyusun : Kebijakan Umum APBD Kabupaten Banyuwangi, 2006
17)  Ketua Tim Pendataan : Potensi Sumber-sumber Penerimaan Pajak Kabupaten Banyuwangi, 2005
18)  Ketua Penyusunan Database Keanekaragaman Hayati Taman Nasional Alas Purwo dan Obyek Wisata Alam Kawah Ijen, 2005
19)  Ketua Penyusunan Database Potensi Jasa Lingkungan dan Wisata Alam di Taman Nasional Alas Purwo, 2006
20)  Ketua Tim Penyusun : Rencana Kerja Pemerintah Daerah Kabupaten Banyuwangi, 2007
21)  Ketua Tim Penyusun : Kebijakan Umum APBD Kabupaten Banyuwangi tahun 2007
22)  Ketua Tim Penyusun Dokumen Rencana Kolaborasi Pengelolaan Eks Mintakat Penyangga Taman Nasional Alas Purwo, 2007
23)  Ketua Tim Penelitian Pendataan Dampak Banjir terhadap UMKM di Kabupaten Situbondo, 2008
24)  Ketua Tim Penelitian Potensi Pengembangan Industri Perikanan di Eks Karesidenan Besuki, 2008
25)  Peneliti Pemanfaatan Limbah Tambak Udang sebagai Sumber Hara Organik terhadap Pertumbuhan dan Produksi Tanaman Tomat (dalam proses) tahun 2009

Lain-Lain:
1)      Workshop Pemberdayaan Masyarakat Berperspektif Gender di Universitas Brawijaya, 2002
2)      Pelatihan Penulisan Artikel Ilmiah Terpusat, 2005
3)      Pelatihan Penyusunan Perencanaan Anggaran Pembangunan Belanja Daerah dan Laporan Pertanggungjawaban Keuangan Daerah sesuai Permendagri 13 tahun 2006, 2006
4)      Pelatihan Ahli Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah sesuai Keppres RI No 80 Tahun 2003 (angkatan X), 2006
5)      Pelatihan Tenaga Konsultan Pengembangan Unit Pengelola Keuangan Gerdu Taskin, 2007
6)      Workshop Pengelolaan Kawasan Konservasi Pengembangan Kemandirian Taman Nasional Berbasis Ekosistem, 2007
7)      Konferensi Aquakultur Indonesia, 2007
8)      Pelatihan Penyusunan Proposal Penelitian Bagi Dosen PT di lingkungan Kopertis VII Jawa Timur, 2008
9)      Workshop Peningkatan Mutu Karya Ilmiah dan Karya Inovatif Mahasiswa PT Jatim, 2009


Banyuwangi,      Oktober 2010
Dosen Pendamping,



Ir. Erika Saraswati, MP
NIDN. 0722046505


[1]     Mahasiswa Universitas 17 Agustus 1945 Banyuwangi.